Assalamualaikum

Search

Memuat...

Sudah Baca kah

Jumat, 06 April 2012

Mahalabio bagayaan khas kalimantan selatan alabio goyunan

Terinspirasi kata guru saya yang menyebutkan bahwa ternyata orang luar pulau kalimantan ternyata tertarik dengan bercandaan 'mahalabio', bahkan sampai menelitinya. Oleh karena itu saya nekat posting artikel tentang mahalabio dengan maksud ingin memperbanyak khasanah referensi tentang mahalabio, selain itu juga untuk memperkenalkan budaya banjar supaya jangan gampang diklaim orang he he (lirik tetangga sebelah). Saya sangat sadar saya nekat posting meski pengetahuan tentang mahalabio masih minim. Karena itu mohon masukkan dari orang yang lebih mengetahui tentang mahalabio.
Mahalabio adalah goyunan (bercandaan) khas dari kalimantan selatan. Secara etimologi (admin ngomong sok intelek he he) Mahalabio berasal dari kata Halabio (Alabio), sebuah nama ibukota kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) yang mana HSU merupakan salah satu bagian dari kabupaten-kabupaten yang ada di Provinsi Kalimantan Selatan. Sedangkan kata Ma yang direkatkan pada kata dasar Halabio bisa diartikan "mengarah/ mendekati sesuatu". contohnya seperti 'manganganak' berarti 'mengarah/mendekati suatu perbuatan kekanak-kanakan"

Mahalabio adalah bercandaan khas kal-sel yang menggunakan bahasa banjar atau hulu sungai. Teknik bercandanya ialah menggunakan kalimat yang agak ambigu. Maksudnya menggunakan suatu kalimat yang biasanya difahami orang untuk menjelaskan pernyataan A, ternyata arti sebenarnya adalah pernyataan B (pasti bingung ya maksudnya he he). Mending langsung contoh Mahalabio aja kali ya:

1. Tikus mati babau banar, kayapa maharumi. (tikus mati sangat berbau, Bagaimana mengharumkan)
ternyata kata 'maharumi' bisa bermakna ambigu dalam cara pengucapannya. 'Maharumi' bisa berati 'membuat harum sesuatu'. Sedangkan 'maharu mi' berati 'mengaduk/mencampur mie'. Tetapi seringkali karena pengucapan yg cepat maka kata 'maharu mie' terdengar seperti kata "maharumi'
Jadi pertanyaan di atas seringkali di jawab orang yang mahalabio dengan jawaban 'pakai garpu atau sendok'.

2. Wahini zaman sudah moderen jadi ulama kada tapakai lagi. (Sekarang Zaman Sudah moderen jadi ulama tidak digunakan lagi).
Kata 'ulama' disini bukan menunjuk ke arti yang sebenarnya yaitu 'orang yang menyiarkan agama'. tetapi ulama yang dimaksud adalah 'U Lama' yang bermakna 'huruf U terdahulu'. Seringkali karena cara pengucapan yang cepat sehingga pengucapan 'U Lama' terdengar seperti mengucapkan 'ulama'.

3. Baanam umpat tes, sabelas kada lulus. (berenam ikut tes, sebelas tidak lulus)
Ternyata kata sabelas disini bukanlah berarti 'angka sebelas' melainkan 'sabelas' yang ternyata nama julukan/gelar terhadap salah satu orang yang ikut tes itu.

4. Jalan dikampung rusak banar, maka bupati sarik bila diaspal. (Jalan di kampung rusak sekali, kok bupati marah jika diaspal)
Kata 'di aspal' yang berarti 'suatu objek yang dibikin aspal" disini ternyata ditujukan kepada 'bupati' bukan 'jalan yang rusak tadi'. Jadi maksudnya bukan bupati marah karena jalan yang rusak di aspal, tetapi dirinya yang hendak diaspal.

Mahalabio cara bercandanya agak mirip dengan bercandaan 'plesetan' gaya komedian Ucup Kelik. Cuma yang membedakan adalah pada bahasa yang digunakan, mahalabio kebanyakan pastinya menggunakan bahasa banjar ataupun bahasa hulu sungai. Contoh bercandaan plesetan ala ucup kelik: "tutuplah botol obat ini dengan rapat!". 'Rapat' disini bukanlah 'rapat' dalam artian sebenarnya yaitu supaya angin tidak masuk ke toples. Tetapi rapat berupa 'rapat' yg seperti sidang, yang keputusan diambil dengan suara terbanyak.

*NOTE*
Postingan ini hanya berupa pandangan atau pendapat admin tanpa didasari telaah pustaka yang kompeten. itu semua karena minimnya pengetahuan admin. Jadi admin sadar tulisan ini jauh dari sempurna dan masih memerlukan banyak masukan dari pembaca terutama yang lebih tahu tentang mahalabio. Yang jelas tujuan admin nekat posting hanya untuk share budaya indonesia terutama budaya khas banjar.
©PUAD CORPORATION 2012

15 komentar:

Fachri siagian mengatakan...

Sedikit tambahan Mahalabio "sapida ku motor bujur kaya ini, kada suah mangaluarkan duit"( sapeda motor saya emang gini2, tapi gk pernah mengeluarkan uang) maksud dari mengeluarkan uang adalah keluar biaya untuk perawatan motor tsb, tapi yg dimaksudkan adalah keluar duit dari motor tsb
.ya gk mungkin dong motor ngeluarin duit

uwais mengatakan...

Sangad kreatif...
Trs berkarya sob.

Anonim mengatakan...

Hehehe....
Jar ada jua:
- Duit saratus ribu di Kandangan payu, tagal amun dipagat jadi kada payu (karena diucapkan secara lisan, kedengarannya seperti: Uang seratus ribu di Kandangan laku, tapi kalau di Pagat [nama tempat di Kab. HST] menjadi tidak laku).

Prajab mengatakan...

bam, bam, bam, puad

Puad Anshari mengatakan...

Aduuuh,, tahu dah ulun siapa inisial prajab. "Hantu mentewe" saku ne !?! hee

Anonim mengatakan...

Nice Artikel, banyakin share budaya banjar lainnya ya pak guru puad

Anonim mengatakan...

Gokil

Puad Anshari mengatakan...

pengen sih nambahin contoh-contoh mahalabio, apalagi belakangan ini sering dapat referensi dari temen kerja dan sosmed... Tapi waktunya ngedit belum nemu,, tergantung mood he he

Anonim mengatakan...

Kren Boy Keren Cuy

Novea Alkahfi mengatakan...

Adalagi.. "biar kayapa pun, kita kada kawa bersatu padu". Ada yg tau dimana letak kelucuannya?
Saya org alabio juga loo

Indra Yadi mengatakan...

Novea Alkahfi : "biar kayapa PUN,KITA kada kawa bersatu padu" PUN,KITA Bearti PUNYA KITA/KEPUNYAAN KITA,,

Khairur Rifki mengatakan...

Habis baras utuh ai amun basatu padu

sahdi anoor mengatakan...

Binian jadi imam makmum nya lakian , kenapa? Wkwkwk
L

sahdi anoor mengatakan...

Binian jadi imam makmum nya lakian , kenapa? Wkwkwk
L

Puad Anshari mengatakan...

imamnya "babinian" leh, sah haja tu.

Babinian arti lainya baisi bini, jadi maksudnya ditujukan bagi lelaki yang sudah menikah.

Damintu kah maksudnya sahdi anoor

Poskan Komentar

Kalo udah baca, ditunggu caci dan maki buat perbaikan tulisan admin kedepannya. :)

Artikel terkait

Related Posts with Thumbnails